"Maling Kandang": Cerita Pengantar Tidur Rakyat

Judul “Maling Kandang”: Cerita Pengantar Tidur Rakyat muncul ketika melihat pemberitaan di televisi (Selasa, 13 Januari 2015) seputar penetapan calon tunggal Kapolri, Komjen Budi Gunawan, sebagai tersangka korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Cuma Catatan Harian Biasa

Tulisan ini cuma catatan harian biasa sebagaimana judul yang terpancang (terpampang, pen) nyata di atas. Sahabat-sahabat kompasianer boleh dengan leluasa memutuskan untuk mau membaca catatan ini atau langsung saja pindah ke lain hati.

Jayalah di Laut, Indonesiaku!

Indonesia adalah negara kepulauan (archipelagic state) yang memiliki perbandingan luas wilayah laut dan daratan sebesar 70% : 30%. Luas keseluruhan wilayah Indonesia didominasi oleh 2/3 wilayah laut dan hanya 1/3 wilayah daratan.

Panggung Rising Star Indonesia Gagal “Ber-endang-endut”.

Rising Star Indonesia (Only Star Will Rise!) di RCTI, Jumat 28 November 2014, memasuki babak Lucky Seven yang mengusung tema “Dangdut dan Melayu”.

Sakitnya tuh di sini…! Di gigi ini…!

Tulisan ini sengaja dibuat bertele-tele, tidak “to the open” (maksudnya: to the point). Maklum napsu curhat lagi berada di puncak tertinggi! Sebenarnya poin dari tulisan ini adalah “cara mudah dan ampuh menghilangkan rasa sakit di gigi yang sangat membandel/menyiksa.”

Senin, 31 Maret 2014

Selamat Merayakan Nyepi (Tahun Baru Saka 1936)

BIDADARIKU

Oleh: Pietro T. M. Netti

Oh....Indah pesona Dewata
Desir ombak di pantai pasir putih
Karya agung lukisan semesta
Nusa indah seribu Pura

Nyanyian alam berkumandang
Gema seruling menyambut riang
Iringi gemulai gerak tarian
Dan senyum manis gadis desa

Lembut tatapmu bagai purnama
Ramah, santun menyinari raya
Kaulah bidadariku
Di antara gemintang khatulistiwa

Catatan:
BIDADARIKU adalah lirik lagu yang diciptakan di Denpasar, 26 Januari 2003

Jumat, 28 Maret 2014

PEMILU Dari Perspektif Masyarakat Pemilih Yang Buta Politik.


Oleh: Pietro T. M. Netti

Pileg, Pemilu Legislatif, sudah di depan mata. Sebentar lagi kita sebagai warga negara yang baik akan menggunakan moment ini untuk menyalurkan hak suara kita pada calon-calon legislatif (caleg) baik dari pusat (DPR RI) sampai daerah (DPR Propinsi dan Kabupaten/Kota) dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Dari sekian banyak calon yang ada, “Siapa yang akan kita pilih” untuk mewakili aspirasi kita dan daerah kita?

Pada musim politik saat ini, tidak dipungkiri, ada begitu banyak (baca: semua) calon baik incumbent maupun new comer yang turun ke lapangan untuk mensosialisasikan diri; memperkenalkan diri dan menyampaikan visi-misi mereka kepada konstituen pemilih.

Berbagai bentuk pendekatan dilakukan guna merebut simpati mulai dari jaringan pertemanan/kekerabatan dalam lingkup sosial, keluarga, pekerjaan, kelompok/organisasi kemasyarakatan suku-agama-ras-antar golongan.

Sebagai masyarakat pemilih yang sebagian besar tidak paham dengan dunia perpolitikan, kita cenderung mengabaikan (baca: tidak mau tahu) tentang visi-misi calon wakil rakyat kita. Kita memilih berdasarkan faktor-faktor lain seperti yang telah saya sebutkan di atas tentang bentuk-bentuk pendekatan yang mungkin saja tidak berhubungan dengan visi-misi tentang bangsa, negara dan daerah ini ke depannya.

“Memilih karena faktor lain pun tidak menjadi masalah karena kita tidak dapat tidak mengingkari kondisi kekinian kita sebagai masyarakat pemilih yang masih buta politik.”

Kita seringkali terlibat dalam sebuah kampanye terbuka partai politik/calon legislatif hanya karena diajak, untuk bersenang-senang, untuk hura-hura (ikut ramai), dll, bukan karena kesadaran kita sebagai masyarakat politik. Kita cenderung mengikuti sebuah pertemuan yang bersifat sosialisasi hanya karena tidak tega menolak undangan sosialisasi yang telah dikirim ke rumah kita. Dan kadangkala kehadiran kita baik pada kampanye terbuka dan pertemuan-pertemuan sosialisasi karena ada daya tarik lain yang menggoda.

Ada ungkapan dalam dialek/bahasa Kupang yang sudah merakyat di hati rakyat pemilih: “Kalo beta ikut, beta dapat apa?” Dan secara psikologis, ungkapan ini dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh partai/caleg penyelenggara hajatan (kampanye terbuka/pertemuan akbar) untuk sebesar-besarnya kemakmuran (baca: kepentingan) partai/caleg.

Pengerahan massa pun dilakukan dengan berbagai trik: membagi-bagikan baju kaos gratis, memberi biaya transportasi, membayar para ojekers (tukang ojek) seadanya sebagai pengganti penghasilan mereka di hari hajatan tersebut. Begitu pula dengan hajatan-hajatan dalam skala yang lebih kecil; makan-minum bersama, membagikan souvenir (kalender, jam dinding, dll) menjadi sebuah daya tarik yang laku keras di kalangan rakyat kecil.

Apa yang baru saja dijelaskan di atas mengenai iming-iming dari partai/caleg kepada kita sebagai masyarakat pemilih pun tidak salah, karena sejauh ini kegiatan-kegiatan seperti yang telah disebutkan tidak terbukti sebagai atau bukanlah sebuah pelanggaran pemilu.

Namun kita sebagai masyarakat pemilih jangan menerima pemberian-pemberian tersebut sebagai sebuah kontrak kerja yang mengharuskan kita memilih partai/caleg dimaksud. Iming-iming tersebut bukanlah sebuah harga mati yang mengikat independensi (kebebasan) kita dalam menjatuhkan pilihan.

Kita sebagai masyarakat pemilih harus terbebas dari ikatan-ikatan apapun (lihat: bentuk-bentuk pendekatan di atas dan pemberian-pemberian yang diperoleh!). Kita walaupun buta politik dituntut untuk bisa cerdas dalam memilih calon-calon wakil rakyat yang tidak sedikit ini, agar tidak terkesan memilih kucing dalam karung.
“Caranya gampang…!”

Walaupun kita buta politik, tapi tidak buta hati nurani. Sebagai masyarakat yang hidup dan bersosialisasi dalam kehidupan beragama, janganlah kita mengabaikan suara hati nurani kita. Sebagai manusia religius, kita tentu memiliki nilai-nilai kebenaran, keadilan dan kejujuran yang hakiki yang terpelihara di dalam hati kita.

Nilai-nilai tersebut adalah pedoman berharga yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai umat ciptaan-Nya yang paling mulia. Kita harus pandai-pandai mendengar bisikan hati nurani kita yang terdalam. Karena bisikan hati nurani adalah suara roh yang berasal dari Tuhan. Maka benarlah ungkapan Latin “Vox Populi Vox Dei”: Suara Rakyat adalah Suara Tuhan (William of Malmesbury-abad ke-12).  

Walaupun kita buta politik, tapi tidak bodoh. Dalam hal memilih (memberikan hak suara), kita tidak harus melek politik. Kita tidak harus mengerti politik baru bisa memilih. Sebagai warga negara yang baik, kita diharuskan menggunakan hak pilih kita sebaik mungkin tanpa harus belajar untuk berpolitik/belajar politik terlebih dahulu.

Sebagai manusia yang dikaruniai oleh Tuhan akal budi, kita tentu memiliki standar-standar nilai kebaikan dalam diri tiap-tiap pribadi. Orang yang tidak beragama sekalipun memiliki standar nilai kebaikan yang dapat dipakai sebagai acuan untuk menilai kebaikan orang lain. Tentunya setiap kita dapat dan berhak menilai apakah seorang calon itu baik menurut kita atau tidak untuk bisa mewakili aspirasi kita.

Dewasa ini kebaikan menjadi komoditi yang bisa direkayasa. Kebaikan telah menjadi trend musiman yang diresepkan hanya 5 tahun sekali (1x5 tahun, seperti resep dokter) setiap memasuki musim politik. Kebaikan sering diterjemahkan dengan memberi bantuan kepada rakyat kecil (baca: miskin) dengan dalih kepedulian, simpati dan empati, namun bukan tanpa syarat. Syaratnya: “Pilihlah aku jadi pacarmu!” Bantuannya pun diberikan sesuai dengan resep dokter di atas.

Padahal yang namanya rakyat miskin memang sepantasnya dibantu dan diperhatikan tanpa syarat apapun. Tentunya kita sebagai masyarakat pemilih bisa membedakan hal berbuat baik yang lagi marak di saat-saat menjelang pemilu ini sebagai kebaikan tulus atau kebaikan rekayasa. Pribadi yang baik tentu gampang memilahnya.

Walaupun kita buta politik, tapi beretika. Etika adalah sebuah nilai yang berhubungan dengan norma-norma dalam kehidupan pergaulan. Norma-norma tersebut menjelaskan tentang cara bergaul antar sesama dan kelompok (maupun negara) yang baik. Etika memiliki makna berupa aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk.

Di sini kita semua sebagai masyarakat tentu memahami tentang apa itu etika. Malah kalau boleh dikatakan, kita sebagai rakyat kecil masih memelihara dan lebih mengedepankan  etika atau cara hidup yang baik dan bermoral dibanding lakon para tokoh/elit politik dan penguasa yang dipertontonkan di berbagai media. Saling menghormati dan menghargai, hidup dengan sopan santun dan tata krama sangat dijunjung tinggi oleh kita sebagai cerminan manusia yang beradab dan berbudaya.

Dalam menentukan pilihan kita, kita pun perlu menggunakan standar etika kita terhadap para calon yang sedang menjajakan dirinya. Kita perlu memiliki referensi tentang siapa para calon yang akan bertarung. Bagaimana cara hidup para calon di dalam kehidupan pergaulan sosial mereka sehari-hari. Karakter dan sifat dari para calon pun perlu ditelusuri sebagai sebuah track record yang patut menjadi pertimbangan. Memang tak ada gading yang tak retak, tapi kita harus menyeleksi yang terbaik dari yang terbaik.

Kita tentu bisa membedakan apa yang baik dan apa yang tidak baik, dan orang yang baik dan orang yang tidak baik.  Oleh sebab itu pilihan kita harus jatuh pada calon/orang yang baik secara etika dan moral. Pilihlah orang-orang (calon) yang kita kenal secara baik dan pastikan bahwa orang/calon tersebut juga adalah orang yang baik. Pilihlah calon dengan track record yang baik, bukan calon yang merekayasa kebaikannya berdasarkan resep dokter: 1x5.

Walaupun kita buta politik, tapi punya harga diri. Kita adalah masyarakat pemilih yang memiliki harga diri. Harga diri adalah totalitas nilai dan kebanggaan diri kita yang tidak dapat tergantikan oleh apapun baik harta ataupun materi. Nilai dan kebanggaan diri tersebut mencakup hati nurani, idealisme/paham, cita-cita luhur dan melakukan apa yang kita yakini sebagai sebuah kebenaran.

Dalam menghadapi masa kampanye pemilihan legislatif dan sosialisasi saat ini, kita dihadapkan dengan berbagai macam figur calon yang mungkin saja sangat membingungkan. Di sana-sini terjadi tawaran visi-misi, sosialisasi diri, dan bahkan mungkin ada tawaran-tawaran menggiurkan lainnya yang bisa meruntuhkan dan melecehkan harga diri kita.

Kita harus cerdas menentukan pilihan kita pada calon anggota yang tepat. Kita memiliki otoritas dan hak penuh dalam menentukan pilihan kita yang terbaik tanpa harus tergoda untuk menggadaikan hak suara kita dengan nilai rupiah atau materi. Hak suara kita jauh lebih berharga dari rupiah. Hak suara kita jauh lebih tinggi dari materi. Hak suara kita adalah harga diri kita. Hak suara kita adalah jati diri kita. Kita tidak perlu bersimpati kepada oknum-oknum yang merasa dapat membeli hak suara kita atau dapat menyogok hak suara kita dengan sejumlah materi.

Kita sebagai masyarakat pemilih juga tidak terlepas dari ruang/tempat dimana kita berada. Oleh sebab itu kita harus memilih calon yang diyakini dapat mewakili aspirasi kita dari tempat di mana kita berada. Pilihlah calon yang berasal dari tempat domisili kita yang sudah pasti akan lebih memahami kebutuhan-kubutuhan daerah pemilihannya dibanding dengan memilih calon dari luar.

Akhirnya, marilah kita menyukseskan pesta rakyat 5 tahunan ini dengan betul-betul menjatuhkan pilihan pada orang yang baik dan orang yang tepat demi kemajuan bangsa, negara dan daerah tercinta ini ke depannya. Kita mungkin buta politik, tapi tidak buta segala-galanya. Kita masih punya hati nurani, tidak bodoh, masih beretika dan punya harga diri.

Kamis, 27 Maret 2014

Fakta: Berbohong Dapat Merusak Kesehatan


GK Online – Semua orang pasti mengetahui tentang berbohong, dan bisa dipastikan pula bahwa setiap pernah melakukannya, entah dalam tingkatan ringan, sedang maupun berat.

Ternyata berbohong bukan saja sebuah tindakan yang melawan hukum dan sebuah perbuatan dosa, tapi berbohong juga dapat merusak kesehatan tubuh jasmani dan rohani.

Berikut ini adalah 6 proses yang terjadi di dalam tubuh ketika berbohong:

1 Menit

Saat anda berbohong, maka akan terjadi penekanan di dalam sistem saraf Anda yang akan melepaskan kortisol di dalam otak Anda. Jika kebohongan yang anda lakukan cukup besar, maka akan terjadi peningkatan adrenalin di dalam jantung dan Anda pun mulai berkeringat. Otak pun akan mempersiapkan respon untuk membela diri.

5 Menit

Setelah beberapa menit berlalu, otak akan terus berpikir untuk 'melindungi' kebohongan yang Anda lontarkan. Hal ini cukup berat bagi otak sebab otak harus memecahkan masalah dan mengambil keputusan di saat yang sama. Itulah sebabnya ketika Anda berbohong pertama, maka akan terjadi kebohongan kedua untuk semakin menguatkan kebohongan anda.

10 Menit

Karena waktu yang berlalu semakin banyak, maka Anda sudah berhasil menguasai otak dan diri Anda. Itulah sebabnya Anda pun bisa marah kepada orang yang Anda bohongi ketika mereka tidak mempercayai kebohongan Anda. Anda menyerang untuk mengalihkan fokus mereka pada kebohongan Anda.

30 Menit

Hormon stres ketika Anda berbohong telah hilang dan kemudian digantikan dengan hormon khawatir. Anda mulai merasa takut akan kebohongan anda yang akan terbongkar.

24 Jam

Dalam kurun waktu ini, mungkin Anda sudah lupa akan kebohongan Anda. Namun bagi yang tidak terbiasa berbohong, maka di dalam otak Anda akan menempel perasaan negatif tentang ketidakjujuran. Hal ini bukan tidak mungkin akan membebani pikiran anda.

72 Jam

Beban yang Anda dapatkan ketika berbohong mampu menyebabkan rasa cemas yang kronis. Selain itu sirkulasi hormon stres seperti kortisol di dalam tubuh Anda akan meningkat dan mengakibatkan kesusahan untuk berpikir secara jernih. Hal ini juga mampu menekan sistem kekebalan tubuh Anda. Akibatnya kesehatan tubuh anda akan terganggu.

Masihkah anda mau berbohong? Berbohong adalah sebuah tindakan melawan hukum yang bisa membawa anda ke dalam penjara. Berbohong adalah sebuah perbuatan dosa yang akhirnya menjerumuskan anda ke dalam api neraka. Dan berbohong adalah tindakan negatif yang dapat merugikan kesehatan fisik dan mental yang ujung-ujungnya menyeret kita ke RSU atau RSJ.

Sumber: merdeka.com (shape.com)

Jumat, 21 Maret 2014

Spesies Ayam dari Neraka


GK Online -- Ayam dari neraka adalah spesies ayam yang hidup pada jaman dinosaurus. Istilah “ayam dari neraka” ini disebut/diperkenalkan di dalam sebuah makalah penelitian terbaru yang berjudul: “A New Large-Bodied Oviraptorosaurian Theropod Dinosaur from the latest Cretaceous of Wester North America”.

Spesies ayam dari neraka ini mempunyai nama ilmiah Anzu Wyliei yang hidup pada jaman dinosaurus (60 juta tahun silam) dengan tinggi 11 kaki (335,28 cm) dan berat ± 600 pound (270 kg).

“Ini tidak masuk akal, ayam ini sangat tinggi”, jelas ahli paleontology dari University of Utah kepada Washington Post. Karena ukuran yang sangat besar itulah maka disebut sebagai “ayam dari neraka”.

Anzu Wyliei ditemukan dan diidentifikasi dari 3 kerangka yang ditemukan di daerah Dakota. Hingga saat ini kerangka Anzu merupakan kerangka dari jenis oviraptorosaur yang paling lengkap dari keluarga oviraptorosaur. Dengan demikian setidaknya dapat dibayangkan bagaimana bentuk dari Anzu (ayam raksasa) ini.

Dari penemuan ini, para ilmuan pun dapat membayangkan bentuk dari jenis Caengdagnathidae, yaitu subkelompok dari jenis oviraptorosaurs yang memiliki tinggi 26 kaki (792,48 cm) seperti Gigantroraptor yang ditemukan Mongolia pada tahun 2005.

Sumber: http://wawker.com

Kamis, 20 Maret 2014

10 Teori Raibnya Pesawat Malaysia Airlines

GK Online, Kupang – Hilangnya pesawat Malaysia Airlines 8 Maret 2014 hingga kini masih menyisakan sejumlah tanda tanya besar dan spekulasi dari berbagai pihak. Hingga berita ini dturunkan, pencarian yang melibatkan 26 negara tersebut telah memasuki hari ke 12, tetapi belum menunjukkan sebuah titik terang keberadaan pesawat Boeing 777 Malaysia Airlines MH370 tersebut.

Pemerintah Malaysia mengatakan jalur pesawat Boeing 777 yang membawa 239 orang tersebut secara sengaja diubah dan dapat diterbangkan ke arah utara atau selatan dari posisi terakhirnya.
Berikut ini adalah 10 teori lain hilangnya pesawat Malaysia Airlines yang dirangkum oleh wartawan BBC, Tom de Castella:

1. Mendarat di Kepulauan Andaman

Pesawat ternyata pada suatu saat sempat mengarah ke Kepulauan Andaman dan Nicobar India, daerah paling timur India yang berada diantara Indonesia serta pantai Thailand dan Birma. Tetapi editor koran Andaman Chronicle menolak teori ini. Terdapat empat landasan pacu bandara disana dan pesawat sudah pasti dapat diketahui keberadaannya jika memang mendarat di sana, katanya kepada CNN.
                                                                                                                          
2. Terbang ke Kazakhstan

Republik Asia Tengah ini berada di titik paling ujung koridor pencarian di bagian utara, jadi kemungkinan pesawat dapat mendarat di sana. Pilot pesawat ringan yang juga penulis buku Mengapa Pesawat Kecelakaan, Sylvia Wrigley, mengatakan pendaratan di padang pasir mungkin terjadi dan lebih mungkin terjadi dibandingkan pendaratan di pantai.

3. Terbang ke selatan

'Ping' satelit terakhir mengisyaratkan pesawat masih mengudara paling tidak lima atau enam jam setelah meninggalkan jangkauan radar Malaysia. Mantan kepala keamanan kelompok bandara BAA dan guru besar keamanan penerbangan Universitas Coventry, Norman Shanks, mengatakan pencarian seharusnya dimulai pada ujung koridor, bukan kebalikannya. Dia berpendapat koridor selatan lebih besar kemungkinannya.

4. Padang pasir Taklamakan, Cina timur laut

Muncul spekulasi pesawat dikuasai kelompok separatis Islam Uighur Cina. Dari 239 penumpang dan awak, 153 warga Cina. Wartawan BBC, Jonah Fisher, menulis lewat twitter: "Pejabat Malaysia meyakini kemungkinan besar MH370 berada di daratan dekat perbatasan Cina Kyrgystan."

5. Ke arah pulau Langkawi karena kebakaran atau masalah lain

Hilangnya transponder dan alat komunikasi lain kemungkinan disebabkan kebakaran, kata penulis blog penerbangan Chris Goodfellow. Belokan ke kiri yang dilakukan pesawat sehingga melenceng dari jalur ke Beijing, kemungkinan adalah usaha mengamankan diri.

6. Pesawat berada di Pakistan?

Konglomerat media, Rupert Murdoch, menulis pesan Twitter, "Dunia terpaku dengan kehilangan 777. Bukan dicuri, tetapi disembunyikan, kemungkinan di Pakistan utara, seperti Bin Laden."

7. Tersembunyi dibalik pesawat lain

Blogger penerbangan Keith Ledgerwood meyakini pesawat yang hilang tersebut tersembunyi di bayangan radar pesawat Singapore Airlines 68 yang berada di daerah yang sama.

8. Terjadi baku hantam

Gerakan pesawat yang tidak beraturan diperkirakan karena terjadi pergulatan di dalam pesawat.

9. Penumpang tewas karena dekompresi

Mantan navigator Angkatan Udara Inggris, Sean Maffett, mengatakan pesawat dibawa ke ketinggian 45.000 kaki untuk membunuh penumpang sesegera mungkin.

10. Pesawat digunakan dalam serangan teroris

MH370 dicuri teroris untuk digunakan sebagai alat penyerangan seperti serangan 11 Septermber di Amerika Serikat. Pesawat mendarat dengan selamat, disembunyikan, bahan bakar diisi, dan transponder baru digunakan sebelum menyerang sebuah kota.

Sumber: BBC Indonesia